Kamis, 19 September 2013

Kerlap-Kerlip

Hati kecil itu terlalu lembut
Dan sangat mudah dimatikan

            Mungkin aku tidak tahu makna pertemuan kita malam itu. Malam pertambatan atau justru malam perpisahan. Waktu kala itu memang tak banyak buatku bersamamu. Hanya lusa berselang, aku pergi. Namun, entah mengapa hatiku masih tertambat hingga sekarang. Sejatinya, apa alasan pasti yang membuatku harus merasakan ini. Kagum? Cinta? Aku tak peduli. Satu hal yang pasti, aku merasakannya. Perasaan adalah satu hal yang tak perlu dicari.  Karena perasaan akan tertambat dengan sendirinya. Segera kumulai semuanya dari sini.

                       Malam hari di Yogyakarta memang bak nirwana mengembang. Seribu hal bisa dicari untuk kemudian dinikmati. Sama halnya denganku. Di detik-detik terakhirku di kota itu, aku mencoba meresapi suasana malam. Mencoba membaur dan merasakan hembusan hawa yang mungkin masih bisa dikenang, dia. Aku lupa kapan pastinya hati ini mulai bicara. Tapi seiring berjalannya waktu, semua kini mulai tertata rapi di hatiku. Aku masih ingat banyolan konyolnya mengenai kepergianku. Aku juga belum lupa pada lemparan senyumnya pada siapapun. Tata krama dan tindak tanduknya masih jelas pula di benakku. Sampai-sampai aku pernah berujar, betapa senang perempuan di sampingnya. Sedetik setelah itu, akupun terdiam sejenak. Mungkinkah, aku? But, someday? Terlalu jauh anganku berkecamuk. Sampai-sampai aku belum rela meninggalkan Yogyakarta dan kampus biru tercinta. Dari berbagai alasan yang kukaji, akupun segera tahu alasannya, perasaanku.

            Aku tidak  pernah mau mengatakan alasannya adalah dia. Aku jenuh dengan rasa yang bertepuk sebelah tangan. Ya, rasa yang harus selalu kudapatkan ketika mengagumi orang lain. Itu dulu. Kini, akan kujadikan diriku sebagai alasan untuk meminimalisir sakit hati yang mungkin akan kudapat.

            Aku mengenalnya hanya singkat. Satu bulan saja. Malam itu, sesungguhnya bukan sesuatu yang istimewa. Bukan hanya aku dan dia yang menjadi aktornya, ada segelintir manusia lain. Situasinya berubah ketika hari semakin larut dan aku tak berani pulang ke rumah. Suara ibuku di telepon makin membuatku takut. Hingga dia mau mengantarku pulang. Sampai disini masih belum ada yang istimewa. Maklum, aku belum pernah diboncengnya macam tas ransel.

            Di lain malam, aku masih sering bertemu dengannya. Biasa saja. Tapi perasaanku mulai berbicara. Hal ihwalnya pun bermula sejak aku mencurahkan kegalauanku untuk meninggalkan kampus biru.       Tapi, hatiku berangsur-angsur berubah. Kacau ketika kawanku berkata bahwa dia memang sudah punya kekasih. Sesama fakultas, katanya. Tapi aku sulit menelannya mentah-mentah. Sampai suatu ketika pesan singkatku bak slide yang tanpa sadar mengorek hal pribadinya itu.

A: klo ditinggal pacar, trus galauuuuu gitu pernah mas?*kepo*
D: jrng, buat apa ditangisin, toh juga gak bakal balik lagi
A: ciee.. pengalaman ki kayake. Jgn” gek bermasalah sm pacarnya skr, *bercanda*
D: iy klo bermasalah, kan dianya di Kalimantan

Ketahuan! Pikiranku tertawa sekeras-kerasnya. Galau? Oh, tidak. Untuk apa galau. Alasan untuk galau pun aku tak tahu. Selanjutnya, pesan singkatku dan dia malah seperti curhat yang tak berujung. Sampai hari ini.
Aku pernah ‘mencubit’ hubungan jarak jauhnya. Hanya sedikit. Jawabannya, entah bercanda atau justru curhat!

A: bisa LDR toh ternyata mas? Hihihihi.. kata orang klo LDR  bisa makin deket *ga tau teorinya darimana*
D: makin deket ma orang lain iya, hehehehe

       Siapa ya? Penasaran. Tapi aku tak mungkin berjalan jauh di ranah itu. Cukup tahu? Ya! Belum ada yang istimewa, bukan?

       Malam berganti malam yang lain. Malam terakhirku di Yogyakarta tepatnya. Entah kapan bisa kembali ke moment itu. Desember, sering kuberujar tentang Desember. Tapi bisakah? Jangan-jangan, mbak Kalimantan ke Yogya! Ya biarlah, biar dia bisa melihat kerlap-kerlip Yogya di malam hari. Tak usah sewot.  Kembali ke malamku. Seperti yang sudah disepakati sebelumnya, aku, dia dan teman-teman sesama maba (khusus aku = eks maba) mencoba menikmati angin malam Yogya, hitung-hitung sebagai farewell event kecil-kecilan. Kami semua pergi dengan sepeda motor. Khusus perempuan yang bermotor,  diminta membonceng yang laki-laki. Termasuk aku. Sebenarnya aku berharap duduk di belakang dia. Malam kala itu tanpa rembulan. Namun, mendung yang hinggap menambah dingin atmosfir kota gudeg. Destinasi yang pertama adalah sebuah angkringan dekat Stasiun Tugu. Kau tahu kawan, dia duduk di depanku. Kamera digital selalu di tangannya. Sok atraktif, pungkasku dalam hati. Entah perasaanku atau bukan, dia sempat melirik ke arahku. Mungkin memperhatikanku yang sedari tadi hanya diam saja. Diam karena moment ini adalah moment perpisahan yang tak tahu kapan bisa terulang lagi. 

to be continued..
     
           
           
           
              
           


0 komentar:

Posting Komentar