Minggu, 25 Desember 2016

Belajar dari Cingkarabala dan Balaupata

Dalam lakon pewayangan, dikisahkan bahwa tiap orang yang hendak memasuki gerbang kayangan suralaya hendaknya datang dengan tubuh yang halus. Tak diizinkan bagi siapapun untuk berani mendekati Kori Sela Matangkep dalam kondisi tubuh yang kasar. Hal inilah yang membuat dua saudara kembar Cingkarabala dan Balaupata diperintahkan untuk menjaga Kori Sela Matangkep. Dengan fisik yang seram, tubuh besar dan bersenjata gada, mereka menghalau hawa nafsu dan angkara murka setiap jiwa yang hendak masuk ke kayangan suralaya.
Cingkarabala dan Balaupata mungkin hanya lakon belaka. Tokoh fiktif yang bisa saja khalayak liat sebagai patung tulak bala di beberapa bangunan monumental. Namun mengamati peran dan watak kedua anak Maharesi Gopatama tersebut, seketika saya berpikir, apakah Cingkarabala dan Balaupata dulunya pernah menolak tugas berat tersebut? Pernahkah terlintas dipikiran mereka untuk menjelma mejadi Sri Rama saja.
Saya lantas berpikir, ini sama saja dengan kenyataan yang harus saya dan seluruh sahabat terima. Hakikat kami sebagai mukhayyar (baca: pemilih) mungkin tak bisa kami rasakan. Singkat kata, siapa bisa menolak titah penempatan? Namun saya teringat lagi dengan  Cingkarabala dan Balaupata, bagaimanapun beratnya menjaga suralaya, mereka tak pernah mengeluh. Hingga akhrinya konsistensi dan keteguhan hati terbukti mampu mengangkat posisi mereka menjadi dewa.
Entah mengapa, tetiba saya berpikir bahwa kita mungkin dapat belajar dari Cingkarabala dan Balaupata. Perkara menerima atau tidak mungkin hanya hati masing-masing yang dapat berkonsolidasi. Namun bicara tentang menunaikan tugas, rasanya Cingkarabala dan Balaupata patut menjadi tauladan. Tak pernah dalam epos pewayangan manapun mengungkap keluh kesah saudara kembar ini. Bahkan diceritakan bahwa mereka beberapa kali perang untuk menjaga senjata dewa dan para bidadari di kayangan. Satu hal yang perlu diingat, Cingkarabala dan Balaupata pun senantiasa menggunakan hati nurani dalam setiap tindakannya, sehingga terkenal sebagai sosok yang jujur dan dapat dipercaya.
Kembali pada hakikat manusia sebagai mukhayyar, mungkin kita tak bisa memilih mau dimana kita ditempatkan. Namun sejatinya kita masih bisa memilih, untuk menjadi Cingkarabala dan Balaupata. Saya yakin, banyak sahabat (tak terkecuali saya) ingin menjelma menjadi Sri Rama atau bahkan Parikesit. Namun, kenyataan meminta kami untuk berperan bak Cingkarabala dan Balaupata. Bukan sebagai penjaga kayangan, namun penjaga keuangan negara. Baik ibukota maupun perbatasan negara, semua bak wengko suralaya yang harus dirumat. Dalam cakrawala yang lebih luas, tentu banyak kekhawatiran untuk menerima tugas mulia tersebut. Jauh dari orang tua, sulit adaptasi, tak ada sinyal ponsel, sampai berpisah dengan pujaan hati karena harus berlayar jauh, pastilah terbayang. Semua seakan tak pasti, abu-abu, seperti debu tersapu angin. Namun kita harus melihat hakikat manusia lainnya, kita adalah mukallaf. Insan yang diistimewakan dengan berbagai kelebihan, sehingga pantas mengemban tugas dan tanggung jawab besar. Saya yakin semua butuh proses untuk memantapkan jiwa seutuhnya. Namun, dengan ini, tak ada lagi alasan untuk menjadi lemah menerima kenyataan yang telah ditentukan, untuk senantiasa menjadi nagara dhana rakca seutuhnya!


Kamis, 17 Maret 2016

Meritokranian: Generasi Muda Pelopor Demokrasi Berintegritas

Oleh Apriliyati Eka Subekti

"Bicara kualitas manusia maka prinsipnya niscaya akan hadir era meritokrasi,"    -Anies Baswedan-

Dalam hitungan minggu, sebagian daerah di Indonesia akan segera menggelar hajatan tertinggi demokrasi. Data KPU menunjukkan bahwa terdapat 9 provinsi dan 260 kabupaten/kota yang serentak mengadakan pilkada pada 9 Desember 2015. Di sisi lain, keikutsertaan dalam memberikan hak suara pada pilkada ini, dipandang sebagai standard partisipasi masyarakat dalam pemenuhan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Perlu diketahui, sekitar 30 persen dari total pemilih di Indonesia merupakan generasi muda atau pemilih pemula. Para pemilih pemula tersebut merupakan basis utama swing voters yang cukup menentukan arah pengelolaan negara pada periode selanjutnya. Di sisi lain, para pemimpin dan pemangku kebijakan sudah sepatutnya dipilih berdasar kompetensi dan integritasnya. Tak ayal, terbersit sedikit kekhawatiran akan kemampuan pemilih pemula dalam mengelola antusiasmenya menentukan sosok pemimpin yang tepat. Namun demikian, jika dimanfaatkan dengan baik, antusiasme tersebut justru dapat menjadi modal untuk mengawal penyelenggaraan pesta demokrasi, khusunya pilkada 2015. Sebetulnya, bagaimana kaum muda dapat ambil bagian mengawal penyelenggaraan pemilihan umum di Indonesia? Mampukah kaum muda menjadi generasi meritokranian yang melek politik? Tulisan ini akan memaparkannya lebih jauh.

Pemilih Pemula, Aset Pemilu
Tak dapat dipungkiri bahwa kondisi demografi suatu negara sangat memengaruhi proporsi pemilih dalam pemilihan umum di negara tersebut. Bahkan, kondisi di atas turut berdampak pada output dari pemilihan itu sendiri. Keputusan pemilih akan menentukan apakah pemilihan umum dapat membawa perubahan, atau justru mengulang perilaku bobrok pejabat publik pemerintahan, penyelewengan kekuasaan berujung korupsi.
Merunut penyelenggaraan pemilihan umum 2014, sebagian dari total pemilih di Indonesia merupakan generasi muda. Data “Survei Pemilih Pemula Pada Pemerintah, Korupsi, dan Pemilu 2014” milik Transparency Indonesia(TI) menunjukkan bahwa 30 persen dari total pemilih di Indonesia adalah pemilih pemula (17-30 tahun). Sejatinya, rata-rata pemilih pemula di Indonesia mendapatkan kemudahan akses pendidikan politik dari berbagai media. Senada dengan hal tersebut, Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sonny Harry Harmadi pun menambahkan, bahwa dengan tingkat pendidikan dan akses informasi yang baik, mereka seharusnya cenderung melek politik. (Antusiasme Pemilih Muda- Kompas, 8 April 2014).
Jika dilihat dari partisipasi politik, sebagian besar pemilih muda menyatakan  akan menggunakan hak pilihnya. Survei TI pada tahun 2014 kembali menyebutkan bahwa, 77% pemilih pemula bersedia menggunakan hak suaranya dalam pemilihan presides (pilpres) 2014. Begitupun pada pemilihan legislative 2014, 63% pemilih pemula menyatakan bersedia memberikan hak suaranya. Fenomena ini menandakan masih terjaganya tingkat kepercayaan pemilih pemula terhadap kondisi politik yang tengah berjalan. Paling tidak, ada kepedulian politik yang terbersit di benak mereka. Namun, jika dilihat dari kesediaan menggali informasi politik, pemilih pemula cenderung minim minat. Nyatanya, 48% pemilih pemula mengaku jarang mencari informasi tentang pemilu, 33% pemilih menyatakan tidak pernah, dan sisanya mengaku sering mencari informasi.
Apabila disandingkan, partisipasi politik dan informasi politik dapat ditarik benang merahnya. Partisipasi politik yang tidak didukung dengan kesediaan menggali informasi politik dapat memengaruhi pilihan politik. Alih-alih memanfaatkan hak pilih dengan tepat, justru malah ikut-ikutankarena tak tahu siapa yang hendak dipilih. Jelas, pemilih pemula masih menjadi basis kuat swing voters, pemilih yang masih dapat mengubah pilihan politiknya. Terbukti, 60% pemilih masih akan mengubah pilihan legislatifnya, sementara 35% akan mengubah pilihan capresnya kelak.
Sejatinya, kondisi di atas mencerminkan suara pemilih pemula yang sulit untuk ditebak namun tak terlalu sulit untuk diarahkan. Tak sedikit sebagian kandidat yang memanfaatkan hal ini. Oleh karenanya, mereka menganggap pemilih pemula sebagai aset pemilu nan potensial yang dapat menjadi lumbung suara.

Generasi Meritokranian
            Demokrasi merupakan sistem yang masih dipercaya masyarakat untuk menjalankan roda pemerintahan Indonesia saat ini. Bumi Bhineka Tunggal Ika pun masih meyakini bahwa sosok pemimpin idaman ialah mereka yang menerapkan demokrasi itu sendiri. Sejatinya, pemimpin yang demokrasi patut disaring dari integritas dan rekam jejak kompetensinya sebagai warga negara. Sistem demokrasi tak bisa turun ranjang layaknya aristokrasi. Sistem demokrasi juga tak boleh dikuasai dan disetir oleh kaum-kaum elit layaknya plutokrasi. Singkat kata, demokrasi menuntut diberlakukannya meritokrasi.
            Meritokrasi adalah sistem pemerintahan dimana para pemimpin dan pemangku kebijakannya dipilih berdasarkan integritas, keahlian, atau prestasinya. Istilah Meritokrasi sendiri dicetuskan oleh Michael Young dalam Rise of the Meritocracy pada tahun 1958. Meritokrasi merujuk sebuah sistem politik yang mengapresiasi integritas dan kompetensi seseorang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meritokrasi merupakan amunisi untuk melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Demokrasi yang diperkuat dengan meritokrasi dinilai mampu melepaskan negara ini dari cengkraman tikus-tikus berdasi.
            Merujuk pemaparan di atas, pilihan politik tiap pemilih lah yang sangat menentukan keberlangsungan demokrasi berbasis meritokrasi. Jika kesadaran politik tiap pemilih (khususnya pemilih pemula)telah mencapai titik kulminasi, tak sulit meweujudkan hal tersebut. Terlebih jika suara para swing voters dapat digiring kearah yang tepat. Menyikapi hal ini, sudah saatnya generasi muda menjadi pelopor demokrasi berintegritas. Mengawal keberlangsungan pesta demokrasi negeri ini. Menjelma menjadi generasi meritokranian.
            Generasi meritokranian adalah generasi yang mampu menaruh pilihan politik mereka pada sosok-sosok yang cakap dan bermoral Generasi meritokranian sadar betul akan pengaruh hak suara mereka demi keberlangsungan demokrasi bernafas meritokrasi. Dengan demikian, mereka akan mencari tahu betul siapa kandidat legislative maupun pemimpin mereka dari berbagai media dan teknologi. Hal ini demi pilihan politik yang tepat, kandidat dengan kompetensi yang memadai dan berpedoman pada integritas. Alhasil, bermunculan sosok-sosok yang lebih dari sekadar pejabat publik, sosok negarawan yang mampu menjadi tauladan.
            Sejatinya, generasi meritokranian lah yang mampu mengawal keberlangsungan pemilihan umum di Indonesia. Antusiasme sebagai pemilih pemula dapat mendorong inisiatif politik yang berujung pada keyakinan mereka untuk menggunakan hak suara dengan tepat.  Terlebih dengan kemudahan akses informasi yang didukung dengan tingkat pendidikan, pemilih pemula sudah sepantasnya cerdas bersikap. Dengan kecerdasan bersikap, generasi meritokranian diharap mampu menularkan kesadaran politiknya pada orang lain. Di sisi lain, hal tersebut juga mampu mendorong keberanian mereka untuk melawan penyimpangan politik  yang terjadi. Paling tidak, mereka tak menjatuhkan pilihan pada kandidat yang terindikasi melakukan penyimpangan tersebut. Jika berbagai peran di atas betul-betul dijalankan, generasi meritokranian jelas menjadi katalisator utama demokrasi bermeritokrat.

Sekadar Perlu atau Penting?
            Persentase yang besar membuat pemilih pemula menjadi sasaran empuk para kandidat dan partai politik. Dalam rangka mendekatkan diri dengan generasi muda, mereka pun menggunakan media sosial sebagai sarana kampanyenya. Strategi lain adalah dengan menggelar berbagai event yang digemari generasi muda. Mulai dari konser musik, flashmob, dan iklan yang menampilkan semangat kepemudaan. Hal ini ditempuh untuk membentuk stigma positif yang selanjutnya mengikat generasi muda dengan sang kandidat atau partai politik tertentu. Seirama dengan kondisi itu, Direktur Lingkaran Survei Kebijakan Publik (LSKP) Sunarto Ciptoharjono pun turut menegaskan, bahwa partai politik membentuk preferensi pemilih muda dengan membentuk ikatan pertama dengan mereka.
            Kondisi di atas membuat suara pemilih muda cukup rentan diombang-ambing. Psikologis yang belum matang cenderung membuat generasi muda mudah dimanfaatkan oknum politik tertentu. Maka dari itu, kesadaran untuk menjadi bagian dari generasi meritokranian sangatlah penting. Yang perlu diingat, suara generasi muda turut menentukan masa depan pengelolaan negara kedepannya.
            Dengan menjadi generasi meritokranian, suara generasi muda tak  mudah direbut dan dikelabui partai tertentu. Menjadi generasi meritokranian berarti menjadi generasi yang kritis, terutama terhadap isu korupsi yang membelit kaum senayan dan mungkin si kandidat pemimpin. Menjadi generasi meritokranian sama saja dengan membangun benteng pertahanan dari gelombang politik yang kian tak menentu. Menjadi generasi meritokranian berarti menjadi motor perubahan sosial.
           
Tanggung Jawab Bersama
            Untuk membentuk generasi meritokranian, memang dibutuhkan pendidikan politik yang berkesinambungan. Cukupkah hanya pemerintah yang bertanggung jawa. Jelas, jawabannya tidak.. Jika pada kenyataannya masih ada generasi apolitis, berarti pemerintah telah gagal dalam memberikan pendidikan politik pada warganya. Akan tetapi, disadari atau tidak, fungsi pendidikan politik nyata-nyata juga diemban oleh partai politik. Maka, apabila generasi muda hanya dimanfaatkan sebagai kantong suara bahkan hanya dijadikan objek politik semata, partai politik pun turut dinyatakan gagal menjalankan kewajiban edukasinya.
            Namun demikian, kesadaran politik sepatutnya harus dibangun sendiri oleh setiap insan muda di Indonesia. Jika generasi muda peduli akan bangsanya, pastilah ia peduli akan pemimpin yang memimpin bangsanya. Menjadi generasi meritokranian hanyalah bagian kecil dari sekian banyak kewajiban kaum muda kepada ibu pertiwi. Tantangan bangsa ini jauh lebih besar, perjalanan meneruskan perjuangan para founding fathers masih cukup panjang. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi bagian dari generasi meritokranian?



Bahan Bacaan

“Antusiasme Pemilih Muda” kompas.com, Senin, 19 Oktober 2015

Demokrasi dengan Meritokrasirepublika.co.id, 20 Oktober 2015(http://www.republika.co.id/berita/kolom/teh-anget/14/03/12/n29mza-demokrasi-dengan-meritokrasi)

 

Melirik Generasi Apolitis yang Kian Kronis beritasatu.com, 21 Juni 2013

(http://www.beritasatu.com/fokus/121100-melirik-generasi-apolitis-yang-kian-kronis.html)


“Pemilih Muda Penentu Kemenangan” DW.com, 30 Maret 2014 (http://www.dw.com/id/pemilih-muda-penentu-kemenangan/a-17527983)


Transparency Indonesia, Survei Pemilih Pemula Pada Pemerintah, Korupsi, dan Pemilu 2014      


Minggu, 03 Januari 2016

“I Corrupt All Cops” Membongkar Candu Korupsi Atas Nama Revolusi

Segerombol orang terlibat adu mulut di atas sebuah flat. Tak berapa lama, seorang pria dilempar dari flat tersebut. Tewas bersimbah darah. Seorang wanita tua yang melihat kejadian tersebut, seketika meniup peluit, memanggil polisi patroli. Dalam hitungan menit, datanglah dua orang polisi menanyakan apa yang telah terjadi. Beberapa orang turun dari atas flat, mereka memberikan sejumlah uang tutup mulut pada dua polisi tersebut, mengisyaratkan hanya terjadi tindak bunuh diri, bukan pembunuhan.  Si wanita tua kembali meyakinkan bahwa telah terjadi pembunuhan. Namun, percuma saja, para polisi sudah disumpal dengan black money.
Potongan cerita di atas adalah bagian dari film I Corrupt All Cops, film yang menceritakan betapa korupsi telah menjadi candu di Hongkong pada tahun 1970-an. Hal yang menjadi sorotan adalah instansi yang kecanduan, kepolisian. Bagaimana tidak, Kepala kepolisian, Inspektor Lak Chui menjadi beking seorang mafia kelas kakap bernama Gold. Disisi lain, diceritakan pula sosok-sosok polisi nakal seperti Unicorn Tang dan Gale Chan yang tak lain adalah anak buah Lak Chui. Sungguh, sulit membedakan antara polisi dan mafia di era tersebut. Singkat cerita, geng mafia berseragam polisi telah membentuk kerajaannya sendiri.
Di sisi lain, para mafia berseragam inipun terbiasa dengan kekerasan dan penyiksaan untuk mendapatkan tersangka dalam suatu kasus. Acap kali mereka mencari korban rekayasa lalu dipaksa dan disiksa untuk mengaku sebagai tersangka. Hal ini digambarkan dalam adegan penyiksaan yang harus dialami seorang mahasiswa bernama Bong. Ia ditangkap dan disiksa dengan tubuh digantung hingga berdarah-darah, hanya untuk mengakui apa yang tak pernah ia lakukan.
Namun, kekerasan dan kekejaman para polisi Hongkong akhirnya menemui sebuah ujung. Klimaksnya, ketika Inspektur Lak mempermalukan utusan kepolisian dari London, Kolonel Charles Sutcliffe, dalam sebuah pertemuan. Lak berpikir Sutcliffe pun dapat dijinakkan dengan uang, sama seperti penjilat lainnya. Hal inilah yang manjadi titik awal berdirinya Independent Commission Against Corruption (ICAC). ICAC yang diprakarsai Gubernur Hongkong pada waktu itu, Sir Crawford Murray MacLehose, langsung bergerak dan menangkapi polisi korup bersama kaki tangannya, tanpa terkecuali Inspektur Lak dan kawan-kawannya.
Wong Jin, sang sutradara sejatinya hendak menyampaikan dengan sederhana kisah-kisah dibalik perjuangan membangun dan menegakkan Independent Commission Against Corruption (ICAC). Sejak awal mula berdirinya, 15 Februari 1974, ICAC telah menemui begitu banyak dinamika demi revolusi mental Hongkong. Godaan, ancaman, serangan, dan bahaya dipaksa berkawan dengan penyidik muda ICAC yang notabene belum paham betul kekejaman dunia mafia. Namun, ICAC paham, tugasnya tak hanya memerangi polisi korup. Mereka bertanggung jawab untuk menyembuhkan candu korupsi. Kerja keras mereka kini membuktikan, ICAC tak hanya disegani rakyat Hongkong, tetapi juga seluruh rakyat dunia. ICAC bahkan menjadi role model badan pemberantasan korupsi di berbagai negara, termasuk KPK.
ICAC berhasil mencatat prestasi gemilang di awal berdirinya. ICAC berhasil memenjarakan Peter Fitzroy Godber, perwira tinggi polisi, yang tak bisa menjelaskan darimana sumber uang di rekeningnya. Godber sempat melarikan diri ke Inggris, namun dengan segala perjuangan ICAC berhasil mengekstradisi Godber, menyita seluruh harta, dan mengganjarnya dengan kurungan 5 tahun penjara.  Namun kewibawaan ICAC pernah diuji pula. Pada 28 Oktober 1977, ratusan anggota HKPF (Hong Kong Police Force) menyerbu markas ICAC. Mereka tak terima 90% anggotanya ditangkapi ICAC karena tersandung korupsi. Gubernur Hong Kong akhirnya mengeluarkan amnesty kepada mereka dan memerintahkan ICAC untuk menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi sejak setelah persistiwa itu saja. Dampaknya cukup besar ternyata,  HKPF mulai berbenah diri, revolusi mental besar-besaran.
Sejatinya, kondisi Hong Kong jauh lebih mengiris dada pada masa itu. Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami peristiwa cicak versus buaya. ICAC sama hal nya KPK, berdiri  atas dasar kejenuhan publik pada kerja polisi, jaksa, dan pengadilan. Akan tetapi, keberadaan ICAC selama 42 tahun masih belum dapat menghapuskan candu bernama korupsi itu. Menilik hal ini, wajar saja jika KPK yang baru berdiri 14 tahun masih punya tugas panjang di Indonesia. Meminjam kata-kata Goenawan Mohammad, kekuasaan ICAC dan KPK bersifat derivative, bukan sumber mandate demokrasi. Tandanya, KPK dan ICAC masih akan terus dibayang-bayangi kekuatan kekuasaan yang menjadi musuh dalam selimut. Sama hal nya dengan KPK, kekuasaannya acap kali dijegal berbagai pihak. Independensinya dipermainkan beberapa kalangan.
Kembali ke tanah air, KPK masih menjadi sumber harapan rakyat. Dengan segala pergulatannya termasuk Revisi UU 30 tahun 2002 yang akan melemahkannya, KPK tetap harus ada. Erry Riyana Hardjapamekas  (Pimpinan KPK 2003-2007), KPK adalah lembaga ad-hoc yang harus dimaknai sebagai lembaga permanen. Sama halnya dengan makna ad-hoc yang  berarti formed for a particular purpose atau “dibentuk untuk tujuan tertentu”. Dalam hal ini, KPK dibentuk dengan tujuan untuk memberantas korupsi. Sehingga apapun alasan penghapusan dan pelemahannya, sungguhlah tidak berdasar dan kontraproduktif.
I Corrupt All Cops hanya sepotong cerita sederhana. Kebutuhan rakyat akan kejujuran dan integritas jauh lebih besar daripada itu. Walaupun pimpinan KPK yang baru acap disebut sebagai hasil kesepakatan antek senayan, rakyat masih menggantungkan harga diri bangsa ini pada KPK. Perjuangan melawan korupsi bukan hanya adu banteng di sebuah colloseum yang luas, melainkan juga tiap langkah kekuasaan yang berdiri di sudut-sudut negeri ini. Tak akan pernah berakhir.





Minggu, 08 November 2015

Hatta, Elegansi Kepribadian Bangsa 

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Syahrir
-Krawang-Bekasi, Chairil Anwar, 1948-

           5 November lalu, Tri Rismaharini dan Yoyok Riyo Sudibyo dianugerahi penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) 2015. Penghargaan ini diberikan atas konsistensi integritas dan inovasi birokrasi bersih yang dimiliki keduanya. Masih ada individu-individu berkarakter kuat yang mampu menjadi panutan, pikir saya.   Pandangan saya terus menerawang, memaknai lebih jauh nama penghargaan di atas. Mengapa Bung Hatta? Bukan Bung Karno, yang selalu dielukan bak singa podium kala beraksi di panggung orasi. Saya lantas kembali membuka lembar demi lembar memoar Bung Hatta. Mencoba mendalami kembali sisi personal beliau yang konon cenderung tertutup.
          Hatta, sosoknya lebih dari sekadar proklamator bangsa. Hatta adalah seorang suami, ayah, sahabat, dan guru bangsa yang sangat mencintai negaranya. Penjara Casuaristaart, Boven Digul, Penjara Glodok, dan Bangka adalah saksi bisu cinta tersebut. Hatta memang telah memilih pergerakan sebagai jalan hidupnya, ia pun selalu siap menelan segala konsekuensi yang hadir, termasuk pengasingan. Bagi saya, Hatta adalah sosok berpendirian yang tak mudah digoyah kemewahan. Karakternya sangat kuat, seperti akar beringin yang mencengkram permukaan bumi. Biarpun sejak kecil Hatta telah yatim, kehadiran Ayah Gaek Arsyad lah (sang kakek) yang senantiasa mengasah dan memperkuat karakter Hatta.
          Tumbuh di lingkungan keluarga yang agamis, membuat Atta (panggilan kecil Hatta) menjelma menjadi pemuda Bukittinggi yang memegang teguh nafas islam. Sodorkan lima pilihan pada Hatta, rending, laut, buku, sekolah, dan Makkah, tanpa ragu Atta pun memilih Makkah. Ayah Gaek nya lah yang mendasari pilihan tersebut. Beliau lah yang mengajari Atta bagaimana menjadi muslim yang menginsafi rukun islam. Dahulu, Ayah Gaek bahkan sempat menjanjikannya sekolah di Makkah. Sayang, sang ibu, Siti Saleha menolak keinginan tersebut. Sekalipun ia tetap bersikukuh, ia tak kuasa membantah sang ibu. Atta memang penurut.
          Gagal ke Makkah, nasib pun membawa Hatta muda ke Betawi (Jakarta), lalu terbang ke Belanda. Kontra dengan ketidakadilan penjajahan menggerakkan hati Hatta untuk bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI). Di sinilah perjalanan perjuangannya dimulai. Bersua dengan bung kecil, Sutan Sjahrir, yang akan menjadi sahabat karibnya. Beriringan dengan partner dwitunggalnya, Soekarno. Bergandengan tangan dengan sosok-sosok besar lain, mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
          Tahukah kawan siapa salah satu  sosok besar yang berpengaruh dalam hidup Hatta? Ialah H. Agus Salim, sosok sosialis humoris sekaligus pendiri Sarekat Islam (SI). Sosok yang sangat berkarakter, sampai-sampai membuat gempar para tamu asing karena perilakunya makan dengan tangan di sebuah jamuan makan malam resmi Eropa. Dari H.Agus Salim, Hatta belajar menjadi seorang intelektual islam. Makin kuatlah karakter Hatta. Makin membara lah semangat nasionalismenya.
          Satu yang menjadi kekaguman saya pada sosok Hatta adalah kegemaran berliterasinya. Hatta sangat suka membaca. Ia sangat mencintai buku. Baginya, buku adalah senjata untuk mencapai kemerdekaan. Ya, Hatta percaya bahwa bangsa ini akan besar jika rakyatnya makan pendidikan. Saking cintanya pada buku, Hatta selalu membawa 16 peti besi berisi buku kemanapun ia diasingkan. Hatta menjaga benar aset-asetnya itu. Pernah suatu ketika, kala masih di Digul, anak-anak angkat Sjahrir tanpa sengaja menumpahkan air ke buku-buku Hatta. Marahlah ia, sampai-sampai Sjahrir dan anak-anak angkatnya harus pindah rumah agar tak menganggu Hatta dan buku-bukunya. Buku, memang telah menjadi bagian dari jiwa seorang Hatta. Kala di pengasingan pun, tangan Hatta tak henti menghasilkan karya. Bahkan setelah ia mundur dari jabatan wakil presiden, kehidupannya turut ditopang dari honor menulis yang tak seberapa.
          Kembali ke kekuatan karakter Hatta. Berapa kali Hatta dibujuk untuk menjadi komisaris di perusahaan asing? Berapa kali Hatta ditawari bantuan oleh Kompeni? Mungkin sulit terhitung dengan jari. Namun, Hatta tetap pada pendirian. Menolak. Aneh baginya bermewah-mewah kala rakyatnya berkalang fakir. Tak apa sederhana, karena sesungguhnya sesuatu yang mahal adalah kesederhanaan itu sendiri. Bahkan pernah suatu waktu, ketika Hatta berkunjung ke Digul pasca kemerdekaan, ia menolak uang saku dinas yang diberikan. Justru uang itu diberikannya pada masyarakat setempat. Itu uang rakyat, dan harus kembali ke rakyat, begitulah Hatta.
             Kekaguman saya masih belum berhenti, saya masih ingat betapa Hatta sangat menepati waktu. Hatta adalah sosok yang tak pernah luput akan waktu. Singkat cerita, dahulu pernah ada tamu kedutaan datang ke kediaman Hatta lewat dari setengah jam. Jangankan menerima masuk, Hatta meminta Pak Wangsa, sang sekretaris, untuk menyuruh si tamu pulang. Hatta memang tak peduli, seberapa orang penting dia. Sekalipun telat, ya telat. Sungguh jauh berbeda dengan kondisi masyarakat saat ini, tak ayal jam karet menjadi hal biasa baik dalam rapat dinas maupun pertemuan formal lainnya. Dari sudut yang berbeda, Hatta sangat menjaga rahasia kebijakan negara bahkan dari keluarganya sendiri. Rahmi, sang istri, bahkan tak tahu jika telah terjadi sannering, dan membuatnya tak bisa membeli mesin jahit.  Di sisi lain, Hatta turut melekatkan kejujuran dan kemurahhatian jiwa orang Indonesia di mata bangsa asing. Ini ia buktikan kala memesan sebuah jas di Hamburg. Awalnya Hatta menolak membeli, namun karena iba pada sang penjual, ia memutuskan mengambil sebuah jas biru. Sesuai perjanjian ia membayar beberapa bulan kemudian. Kurs Jerman kala itu merosot tajam, hingga harga jas melorot 90%. Namun, Hatta tetap membayar sesuai harga awal. Seminggu kemudian, sang penjual mengirimi Hatta surat. Ia menyanjung kebaikan dan kemurahhatian Bangsa Indonesia. Jauh sebelum menteri pendidikan mengumandangkan pentingnya kepribadian bangsa, Hatta terbukti telah menorehkan keluhuran hati Indonesia, yang dirasakan oleh bangsa lain.
          Terakhir sebelum saya menutup tulisan ini, saya ingin sedikit mengulik perjalanan persahabatan Hatta dengan beberapa rekannya. Terkhusus Sjahrir dan Soekarno. Sjahrir, si bung kecil itu, telah menjadi bagian dari perjalanan Hatta. Pada akhirnya, kemerdekaanlah yang memisahkan mereka. Sjahrir terbuang. Hatta bahkan dipertemukan dengan Sjahrir yang telah tertidur tenang, di sebuah makam, tempat segala jasad kembali kepada bumi. Duka mendalam. Sejatinya, Hatta sadar Sjahrir korban Soekarno. Namun, surat-surat pembelaanya pada Soekarno tetap tak digubris. Sampai suatu ketika, Soekarno terkulai tak berdaya, termakan demokrasi terpimpinya sendiri. Hatta tak bisa mengingkari, ada sejarah luka yang digores Soekarno padanya. Namun, kenangan perjuangan lagi-lagi meuluruhkan segalanya. Hatta iba. Soekarno tetap sahabat Hatta.
          Bagi saya, keteguhan karakter Hatta merupakan kekuatan tersendiri bagi Bangsa ini. Tak perlu jauh-jauh menengok sosok asing, melihat Hatta saja sudah cukup bagi kita untuk berbenah diri. Kini saya paham, mengapa nama Bung Hatta menjadi nama untuk penghargaan antikorupsi di Indonesia. Semua berharap  siapapun yang meraihnya, berkarakter layaknya sosok Hatta. Saya masih ingat ketika Jokowi mendapat penghargaan tersebut beberapa tahun silam. Kini, justru partai pendukungnya mengusung pembubaran KPK. Kalau pun draft RUU KPK yang mematikan ditekennya, saya mempertanyakan seberapa kuat karakter Jokowi. Mungkin, penghargaan Bung Hatta Anticorruption Awardnya perlu dicabut jika itu benar terjadi. Sejujurnya, Saya masih optimis ada Hatta-Hatta lain di Indonesia. sosok-sosok yang berkarakter teguh dan menjadi cerminan elegansi kepribadian bangsa Indonesia. Pertanyaanya, kini mampukah kita generasi muda menjadi Hatta di masa depan? Coba pejamkan mata dan resapi.
            
(Disarikan dari Memoar dan Catatan Singkat
 “Hatta, Aku Datang karena Sejarah”)


Sabtu, 31 Oktober 2015

Bianglala Bulan November
(Catatan kecil dari pinggiran Kampus Ali Wardhana)

Salam super, generasi hebat Kampus Ali Wardhana! Senang rasanya jari-jari ini kembali dapat menari. Menari untuk menghibur, sekadar mengulas hal-hal ringan namun cukup “lucu dan menarik”. Paling tidak bisa menulis sedikit lah walaupun belum taraf makrifat. Ya, karena saya bukan Syekh Siti Jenar yang ilmunya sudah kemana-mana.
 Beberapa minggu ini, sedang berlangsung perhelatan pesta demokrasi di kampus tercinta. Mengaku atas nama “kampus yang lebih baik”, beberapa kawan pun memutuskan untuk bertarung, memperebutkan tahta Presma-Wapresma. Galang dukungan sana-sini, rekrut simpatisan dari mana-mana.  Alhasil, Pose “seksi” jari pun wara-wiri di kampus. Mulai dari brosur, kalender, banner, semua isinya gambar dua lelaki. Bahkan, memori ponsel layar datar saya sampai penuh dengan foto, video, jargon, sampai diskusi yang menurut saya “ringan dan lucu”.
            Kalau saya tidak salah hitung, ada tiga pasang calon yang moncer mondar mandir di galeri ponsel layar datar saya. Eh, atau mungkin masih ada calon keempat? Ah, hanya tiga kok, yakin hanya tiga. Calon pertama, maju dengan free spirit nya, mengaku atas nama “kehidupan berliterasi kampus yang lebih aktif”. Perlu diingat, ini hanya istilah saya ya, bukan jargon sang calon. Mungkin bagi mereka, literasi adalah militansi. Literasi lebih keras dari sekadar hal lain, layaknya Tan Malaka di dalam kubur yang mengaku suaranya akan lebih keras daripada di atas bumi. Coba kita bedah lagi, apa program misi yang ditawarkan: menanamkan rasa cinta pada kampus,membuka ruang ekspresi mahasiswa, penyambung lidah, optimalisasi prestasi mahasiswa, harmonisasi alumni mahasiswa dan masih banyak lagi yang mungkin saya tak tahu. Hal ini rencananya disokong program macam kajian riset, bedah buku, STAN Sehat dan lainnya. Saya rasa program kajian dan riset sudah diemban PUSPA dan PKAKP, lantas BEM mau membuat riset seperti apa nantinya, ya. Bedah buku juga saya rasa sudah jadi acara rutin di beberapa forum, apalagi di forum diskusi elkam saya. Menurut hemat saya sih mereka bisa melakukan hal lain yang lebih menarik daripada itu.
            Bagaimana calon kedua? Kalau yang ini membawa kita untuk “membolang” kesana-kemari. Ya, keduanya sosok-sosok bolang yang gemar berekspedisi. Di awal, saya berpikir,  jangan-jangan nanti ada sesi “nggunung bareng capresma-cawapresma”, sayang keburu datang masa tenang. Kesannya, calon nomor dua ini ramah dan bersahaja, membumi singkatnya. Ya kalau di gunung, sih namanya pasti menggunung, lah orang kita dibumi ya pasti membumi. Dari yang saya tahu, mereka menawarkan gerakan Pak Anies Baswedan versi STAN, mungkin semacam kegiatan kawan-kawan saya di Bambu Pelangi. Lalu, ada creativepreneur yang saya rasa menjadi kegiatan kawan-kawan di SEEC. Di sisi lain, ada sesi bertatap muka dengan mereka pula dalam satu waktu. Hanya ini? mungkin masih ada lagi yang saya juga tak tahu. Namun, menurut hemat saya, beberapa program unggulan mereka harusnya juga cukup dikerjakan jajaran elkam dan HMS. Sebagai badan organisasi yang cakupannya lebih luas, mereka bisa melakukan yang “lebih” dari sekadar melakukan kegiatan elkam semata.  
            Lalu, bagaimana dengan calon terakhir? Mari kita eksplorasi calon ketiga. Dari infografis yang memenuhi galeri saya, si capresma adalah mantan wapresma di era keemasannya. Lalu si cawapresma? Dari periode yang sekarang, loh. Program unggulan? Saya juga kurang begitu paham dengan apa yang ditawarkan. Tapi ada satu yang menjadi sorotan saya, katanya mereka hendak membentuk jaringan komunitas anti korupsi se-Indonesia. Saya jadi tambah bingung. Sejatinya, kan sudah ada masyarakat koalisi antikorupsi. Mungkin, minggu lalu mereka tidak ikut Konsolidasi Gerakan Antikorupsi jilid II di Menteng. For your information, salah satu elemen kampus antikorupsi di kampus bahkan berhasil memelopori terbentuknya GEMA AKSI (Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi), sebuah komunitas anti korupsi di tataran PTK se-Indonesia.  Sehingga, kesimpulannya, apa yang ditawarkan calon nomor tiga sudah tersedia di pasaran. Lalu, bagaimana dong?
            Perlu dipahami kawan, dwitunggal yang terlihat sempurna tidak akan mungkin tanpa cacat. Tengok proklamator kita, ketidakcocokan pun dapat terlihat di antara keduanya. Soekarno dengan Partindo nya ingin memobilisasi masa, sedang Hatta dengan PNI nya ingin mendidik kader. Melirik para capresma-cawapresma, saya berharap hal-hal seperti itu tidak terjadi, walau kemungkinannya sangat besar. Dengan segala keterbatasan, dengan jarak Purnawarman-Ali Wardhana, semoga Presma bukan sekadar mahkota mentereng dengan wapresma sebagai perdana menteri. Jangan-jangan, bisa kencing berlari nanti.
 Ya, mau tak  mau, masa tenang telah tiba. Saya akhirnya berpaksa diri untuk khusnudzon pada ketiga calon. Saya cukup senang ada yang bicara masalah kondisi literasi, kepekaan sosial, dan antikorupsi di  kampus. Semua itu memang hal-hal yang seharusnya dekat dengan mahasiswa bukan? Makanya, strategis menjadi bahan kampanye! Saya yakin masing-masing calon punya kelebihan dan kekurangan. Di sisi lain, saya yakin  kawan-kawan bisa cerdas untuk menentukan pilihan. Sudah tiba era meritokrasi, begitu bahasa inteleknya. Apalagi dengan penuhnya memori ponsel kalian, pastilah memilih presma-wapresma jadi lebih ringan dan menarik. Beberapa hari lagi, hari penentuan datang. Itu tandanya agitprop di kampus segera berakhir! Sekali lagi, tulisan ini hanya catatan pinggiran, bukan untuk dibaca serius apalagi dipenthelengi terus-terusan. Hanya tarian jari-jari saya. Karena beberapa minggu ini saya seperti naik bianglala. Awalnya asyik, lucu dan menarik tapi lama-lama bikin pusing :D

Saya,
Bukan timses manapun


Minggu, 11 Januari 2015

Salam Hangat, Nagara Dhana Rakca! (Catatan Singkat dari Kampus Ali Wardhana)

Oleh: Apriliyati Eka Subekti
Mahasiswi Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Sebelum “menjelajahi” catatan kecil ini, dengan riang gembira saya ingin “memamerkan” identitas saya saat ini. “Memamerkan” dengan bangga, begitulah tepatnya. Saya adalah salah satu mahasiswa aktif di Kampus pencetak abdi negara, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Saya bukan aktifis berkaliber tinggi, baik di dalam maupun luar kampus. Saya juga bukan sosok yang berpengaruh di ranah politik kampus. Saya hanya senang menanggapi sesuatu yang ada di kampus melalui ketikan jari-jari saya.
Beberapa jam yang lalu, seorang kawan di kampus sedang tercengang membaca postingan salah satu kompasioner di jagat dunia maya. Ketika membaca judul postingan tersebut, jujur saya tertarik dengan pembahasan yang akan dihadirkan. “Strategi Presiden Jokowi Berantas Mafia Pajak setelah Mafia Migas” postingan yang tak buruk, pikir saya. Sayangnya, semakin menelisik ke tengah, semakin terbahak-bahak saya membacanya.
Lagi dan lagi, saya menemukan postingan nyeleneh nan semprul yang sedikit menghilangkan respek. Saya bisa jadi tak kenal dengan si penulis yang menjuluki dirinya sebagai “Mother of The Words” itu. Namun, saya merasa tetap berhak menuliskan catatan singkat ini.
Entah berapa orang yang telah “melempar” paksa cap hitam pada kampus saya, sejujurnya saya sudah gerah untuk mengungkit-ungkit problema suram para alumnus. Prinsip saya hanya satu, kini saatnya kami (baca: Seluruh Mahasiswa STAN) mengubah yang suram-suram itu
Sekarang, biarkan saya sedikit bersafaat, kawan. Sebagai bagian dari civitas akademika Kampus STAN, saya agak terganggu dengan istilah “jaringan korupsi di STAN” yang ditulis si kompasioner. Ia menuliskan dengan jelas  bahwa jaringan korupsi di Instansi perpajakan bisa terintis sejak masih menjadi mahasiswa di STAN, karena belajar korupsi sudah diajarkan sejak masuk sekolah pajak STAN. Argumen sesat, kata saya. Sesat karena jelas-jelas tak ada institusi manapun yang mengajarkan keburukan (baca:korupsi) pada anak didiknya, apalagi STAN. Sejauh saya menempuh pendidikan di Kampus berjuluk Ali Wardhana ini, saya tak pernah diajari Principle sampai  Intermediet of Corruption. Saya yakin kawan-kawan di spesialisasi Perpajakan pun tak pernah diajari Pengantar Hukum Perkorupsian, yang ada malah Pengantar Hukum Perpajakan.
Bicara masalah sistem, STAN sendiri menerapkan sistem perkuliahan yang makin hari bisa dibilang makin ketat. Menyontek saat ujian sama dengan Drop Out. Bahkan, batas maksimal ketidakhadiran perkuliahan hanya 3 kali per mata kuliah, lebih dari itu tidak diperbolehkan ujian, tidak ikut ujian berarti Drop Out. Kejam? Saya rasa kampus sangat sadar bahwa penyontek adalah bibit koruptor, makanya harus segera dibasmi dari kampus sejak dini. Di sisi lain, kami sadar telah disekolahkan rakyat, makanya wajib untuk tertib kuliah sampai-sampai hanya boleh tidak datang kuliah 3 kali per semester.
Sebagai tambahan, gerakan antikorupsi di Kampus STAN juga makin gencar dilancarkan. Mahasiswa sendiri sering sekali mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk memupuk semangat antikorupsi, seperti serangkaian kegiatan “Semangat anti Korupsi” baru-baru ini.  STAN juga punya SPEAK (Spesialisasi Anti Korupsi), salah satu Unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di ranah antikorupsi. Disini peran alumni-alumni yang pernah tergabung di SPEAK bukan untuk mengajari korupsi, tetapi justru untuk memperingatkan generasi dibawahnya bahwa setiap lahan-lahan basah bukan untuk dinikmati. Tidak bermaksud meninggi-ninggikan, reputasi SPEAK sendiri bahkan sudah diakui KPK. Jadi nampaknya, si kompasioner itu perlu main-main ke KPK dulu sebelum menulis artikel mafia pajaknya.
Di sisi lain, saya pun harus menegaskan bahwa Kampus STAN bisa dibilang mati-matian mendidik para calon punggawa keuangan negara yang berintegritas. Beberapa waktu lalu, kampus memiliki serangkaian program character development program  yang saya rasa menjadi bagian dari usaha tersebut. Sejak masih mengikuti Dinamika (sebutan untuk acara orientasi mahasiswa baru), nilai-nilai integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan pun sudah diakrabkan di telinga saya.
Saya masih ingat perkataan yang selalu diucapkan oleh dosen perpajakan saya, tugas masa depan mahasiswa STAN bukan sekadar sebagai abdi negara, tetapi penjaga keuangan negara. Dalam kamus saya, hal tersebut bukan sebatas pada pencapaian target pajak semata, tetapi juga pada implementasi administratif hukum-hukum keuangan negara. Andai pun ada undang-undang pajak maupun keuangan negara yang merugikan, kami lah yang akan memperbaikinya esok. Meminjam makna Cakti Buddhi Bhakti, dengan segala kekuatan, tenaga, dan fikiran dan dengan budi yang luhur, kami akan berbakti kepada Negara.
Melalui catatan ini, jelas saya sangat menertawakan postingan si kompasioner yang terus mengaku ulung. Besar harapan saya kepada khalayak untuk memandang setiap permasalahan yang ada di negeri ini dari banyak dimensi, karena menarik kesimpulan hanya dari satu dimensi merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan sampai kapanpun. Untuk seluruh kawan-kawanku dimanapun kalian berada, mari kita buktikan bahwa kita memang benar-benar Nagara Dhana Rakca!


Salam Hangat, Nagara Dhana Rakca!

Quo Vadis Ditjen Pajak (Selayang Pandang Semi-Autonomous Revenue Authority dan Penerapannya di Indonesia)

Oleh: Apriliyati Eka Subekti
Mahasiswi Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

“Efficiency of a tax system isn’t determined only by appropriate legal regulation but also by the efficiency and integrity of the tax administration
-Nicholas Kaldor-

Secuplik Kalimat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa ketentuan dan peraturan perpajakan yang tepat tidaklah cukup untuk menghasilkan penerimaan pajak yang efisien. Satu hal yang sangat menentukan efisiensi ini justru terletak pada administrasi perpajakan di negara itu sendiri. Memang, administrasi perpajakan tak bisa lepas dari hukum pajak. Hal ini karena administrasi perpajakan bertugas untuk mengimplementasikan dan menegakkan hukum pajak berdasar undang-undang perpajakan yang telah ditetapkan. Terkait dengan hal ini, sebetulnya dibutuhkan otoritas pajak yang diberi kewenangan oleh undang-undang perpajakan untuk melakukan administrasi perpajakan. Dewasa ini, Indonesia masih mempertahankan sistem otoritas pajak yang terbilang “tradisional”, dimana otoritas pajaknya (baca: Direktorat Jenderal Pajak) masih segaris vertikal di bawah Kementerian Keuangan. Bertolak belakang dari hal tersebut, otoritas pajak negara-negara lain rupanya kini jauh lebih otonom. Perbaikan atas penerimaan pajak lah yang menjadi alasan utama mereka menerapkan kebijakan ini. Berangkat dari hal di atas, Indonesia pun lantas berwacana untuk “memisahkan” Direktorat Jenderal Pajak dari Kementerian Keuangan dan menjadikannya sebagai otoritas tersendiri. Sejatinya, tepatkah kebijakan pemisahan tersebut? Bagaimana sebetulnya otoritas otonomi perpajakan yang diwacanakan di Indonesia? Seberapa baik implementasinya? Siapkah kita untuk menerapkan sistem tersebut? Tulisan ini akan membahasnya lebih lanjutnya.

Reformasi Perpajakan
            Dewasa ini, Penerimaan negara dari sektor pajak hampir selalu meleset dari target tahunan pemerintah. Setali tiga uang dengan hal tersebut, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro pun mengatakan bahwa penerimaan pajak tahun 2014 disinyalir akan bernasib serupa. Pemerintah telah menargetkan jumlah pendapatan negara sebesar Rp 1200 triliun dari sektor pajak pada APBN-P 2014. Akan tetapi, kenyataannya, penerimaan pajak baru menyentuh angka Rp 683 triliun hingga penghujung September 2014.
            Menanggapi kondisi di atas, pemerintah pun nyata-nyata berusaha meminimalkan tax gap dengan berbagai upaya reformasi perpajakan. Mulai dari program kring pajak hingga interaktifnya situs Ditjen Pajak yang menampilkan informasi perpajakan. Belakangan, pemisahan Ditjen Pajak dari Kementerian Keuangan sedang hangat dibahas sebagai langkah reformasi perpajakan yang hendak diambil. Hal tersebut mencuat bukan karena alasan, semua dilandasi oleh tuntutan atas kenaikan penerimaan pajak guna menyangga perekonomian dan pembangunan nasional. Bagaimana tidak, penerimaan dari sektor pajak telah menyumbang hampir 79% pendapatan nasional Indonesia.
            Berbicara masalah reformasi perpajakan, sejatinya kita harus memperhatikan terlebih dahulu tujuan, proses dan langkah dari tiap upaya reformasi perpajakan yang direncanakan. Memang, pemerintah bermaksud baik dalam hal ini, akan tetapi reformasi perpajakan akan gagal jika tak ada reorganisasi administrasi perpajakan dan management developing dalam otoritas pajak itu sendiri. Kelembagaan memang punya peran penting dalam administrasi perpajakan. Terlebih lagi, hukum pajak akan berfungsi dengan baik jika administrasi perpajakannya berjalan dengan baik. Untuk itulah, pemerintah sepatutnya menemukan bentuk ideal otoritas pajak yang akan menjalankan administrasi perpajakan tersebut.

Semi-Autonomous Revenue Authority
            Terkait dengan bentuk ideal otoritas pajak, lembaga otoritas pajak yang otonom dan terpisah dari Kementerian Keuangan dinilai lebih dapat menjalankan sistem administrasi perpajakan secara professional. Alasannya merujuk pada beberapa hal yang mendukung peningkatan kepatuhan pajak, antara lain: independensi keuangan, kewenangan administratif yang otonom (mandiri), dan pengelolaan sumber daya manusia yang lebih maksimal. Peningkatan kepatuhan pajak ini, diharapkan akan bermuara pada peningkatan penerimaan pajak.
            Sejatinya, terdapat dua model otoritas pajak di dunia: Otoritas pajak di bawah Kementerian Keuangan dan otoritas pajak yang otonom   Menyoal masalah “otonom”, sepatutnya otoritas pajak menjadi “semi-otonom”  karena kekuasaan dan kewenangannya tak dapat terpisahkan dari kontrol pemerintah. Oleh karenanya, pimpinan otoritas ini akan memberikan laporan secara berkala kepada menteri keuangan. Salah satu contoh otoritas pajak semi-otonom di dunia adalah Internal Revenue Service milik Negara Paman Sam, Amerika Serikat.
            Otoritas Pajak Semi-otonom atau Semi-Autonomous Revenue Authority (SARA) merupakan otoritas dengan tata kelola administrasi perpajakan yang memiliki kemandirian dan independensi. Kemandirian tersebut berada dalam ruang hukum, status, pendanaan dan penganggaran, keuangan, sumber daya manusia, serta administrasi. Karena SARA adalah otoritas pajak yang otonom, ia dapat fokus menjalankan fungsinya dan terbebas dari berbagai intervensi politik oknum tertentu. Otoritas macam SARA sejatinya masih tunduk pada Kementerian Keuangan. Dalam beberapa hal seperti kepegawaian, pengadaan barang dan jasa,  hingga sistem teknologi, SARA masih berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan.
            Secara Hukum, SARA jelas terpisah dari Kementerian Keuangan. Anggaranya sendiri berasal dari persentase tertentu (yang dapat ditetapkan presiden melalui DPR) total pajak yang dipungut.Terkait dengan model kepemimpinannya, SARA terbagi menjadi dua, yaitu CEO (Chief of  Officer) atau BDO (Board of Director). Keduanya menunjukkan keunggulan sistem eksekutif SARA. Sistem kepegawaian dalam SARA pun sangat fleksibel. Otonomi dalam sistem kepegawaian membuat SARA dapat lebih leluasa mengelola sumber daya manusianya. SARA pun dapat dengan mudah mendapat sumber daya manusia yang berkualitas dan terlatih sehingga mampu mewujudkan efisiensi dari administrasi pajak. SARA bahkan menyediakan elemen-elemen (seperti kode etik dan audit internal) yang bisa menjamin akuntabilitas otoritas pajak. Salah satunya terimplementasi dalam pemberitahuan laporan penerimaan secara berkala pada menteri keuangan dan DPR.
            Negara yang secara nyata merasakan dampak signifikan dari sistem SARA ini adalah Peru. Negara di Amerika Tengah ini membentuk otoritas pajak semi-otonom pada tahun 1990-1991. Otoritas ini diberi kewenangan untuk menetapkan sendiri sistem kepegawaian yang sangat menyejahterakan pegawai negeri sipilnya. Tak berhenti sampai disitu, sistem administrasi perpajakannya pun dirombak secara total. Efeknya, rasio penerimaan pajak Peru meningkat ke angka 14, 24% dari 11, 99% selama kurun waktu 1992-1997. Data USAID menunjukkan produktivitas PPN pun naik secara signifikan. Bahkan, tingkat kepatuhan pajak merangkak naik dari angka 10, 83% menuju 35, 20% dalam kurun waktu 1990-2003. Jumlah wajib pajak juga meningkat 2 kali lipat dengan angka 1, 85 dalam kurun waktu 1993-1997. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan tingkat korupsi pajak di Peru? Rosario G. Manasan dari Phillippine Institute For Development Studies, dalam paper-nya  bertajuk “Tax Administration Reform: (Semi)-autonomous Revenue Authority Anyone?” menjawab bahwa tingkat korupsi di Peru turun secara signifikan, seiring dengan semakin baiknya tingkat pelayanan administrasi perpajakan di sana.

Quo Vadis Ditjen Pajak
          Menilik keberhasilan otoritas pajak semi-otonom Negara Peru, tak ayal Indonesia pun sepatutnya melirik sistem SARA. Fakta menunjukkan bahwa sejak tahun 2002, Ditjen Pajak hanya mampu 2 kali memenuhi target penerimaan pajak. Selama ini, penentuan target penerimaan pajak bisa dibilang tidak jelas, hanya terbentuk dari pembicaraan pemerintah dan DPR. Di luar dari pada itu, penelitian Taliercio dalam “World Bank Policy Research Paper” tahun 2004 mengungkapkan bahwa semakin otonom otoritas pajak maka collection cost nya semakin efisien. Makin stabil otoritas otonom pun, makin baik pula administrasi perpajakannya. Kondisi ini disebabkan oleh kewenangan besar pimpinan otoritas yang mempercepat reformasi perpajakan.
            Lantas, Apa Ditjen Pajak benar-benar perlu dipisah? Ya. Otoritas pajak butuh otonomi yang luas untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas administrasi perpajakan. Penerapan SARA dengan otoritas pajak semi-otonom sejatinya dapat dipertimbangkan di Indonesia. Namun demikian, tak menutup kemungkinan sistem ini dapat menyebabkan benturan administrasi di ranah pemerintahan. Hal ini dikarenakan beberapa elemen otoritas semi otonom masih bergantung pada Kementerian Keuangan. Jalan lain yang dapat diambil untuk mewujudkan otonomi adalah dengan pemisahan sepenuhnya Ditjen Pajak dari Kementerian Keuangan. Pemisahan ini pun dapat dibarengi dengan realisasi pembentukan Badan Penerimaan Negara (BPN) yang sempat direncanakan beberapa waktu lalu. BPN nantinya merupakan wujud integrasi Ditjen peneriman negara seperti Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai. Penggabungan ini nantinya mampu mengintegrasikan data potensi wajib pajak, alhasil potensi-potensi wajib pajak semakin terpetakan. Di sisi lain, kedudukan BPN yang lebih tinggi dapat menanggulangi debirokratisasi. Kemudahan merekrut sumber daya manusia yang professional pun semakin menjadi nilai tambah.
           
           
Seberapa Siapkah Kita
Kembali mempertimbangkan SARA, sistem ini sebetulnya dapat berjalan di Indonesia dengan beberapa catatan. Sistem SARA dapat diberlakukan dengan penerapan BOD (Board of Director), dimana SARA dipimpin direksi yang mewakili sektor publik, baik akademisi maupun praktisi. Penerapan SARA juga membutuhkan kontrol atas otonomi itu sendiri. Terakhir yang tak boleh luput adalah masalah penganggaran dan mekanisme pengawasan check and balance yang tetap harus berjalan.
            Sejatinya, pemerintah masih perlu memikirkan multiflyer effects yang akan terjadi jika sistem ini benar-benar digunakan. Setidaknya, permasalahan yang ada dalam Ditjen Pajak patut dikaji dan dipelajari ulang, sehingga keberhasilan modernisasi sistem perpajakan ini dapat terukur. Satu yang paling utama adalah komitmen semua pihak, baik pemerintah dan sektor publik untuk memulai reformasi perpajakan, demi perekonomian nasional yang lebih baik. Lantas, seberapa siapkah kita?

Kamis, 26 Juni 2014

Inggit Garnasih, tiga dalam satu diri
Oleh: Apriliyati Eka Subekti

“Separuh dari semua prestasi Soekarno dapat didepositokan atas rekening Inggit Garnasih di dalam Bank Jasa Nasional Indonesia.”
-Ramadhan K.H-

Pemimpin besar, itulah dua kata yang pantas disematkan kepada sosok proklamator bangsa sehebat Soekarno. Kekuatan kharisma yang menyihir hingga ambisinya untuk menantang dunia, seakan menjadi bukti betapa luar biasa pengaruhnya di Indonesia bahkan seluruh dunia.  Namun demikian, sejatinya tak banyak orang yang tahu siapa sosok dibalik layar kedigdayaan Bung Karno kala itu. Sosok seorang perempuan yang dapat menjelma menjadi ibu, kekasih bahkan kawan sekalipun. Sosok yang telah mengantarkan Soekarno ke podium tertinggi pada zamannya.  Sosok yang mengantarnya ke gerbang zaman baru tanpa pernah merasakan jalan bertabur bunga.

Inggit Muda
            Jika Ramadhan K. H. tak pernah berinisiatif untuk menulis autobiografi Inggit Garnasih dalam Soekarno, Kuantar Ke Gerbang, mungkin saja nama Inggit akan tenggelam dari ingatan rakyat Indonesia. Inggit Garnasih hanyalah seorang wanita sunda biasa, tanpa silsilah kebangsawanan. Ia bahkan tak pernah mengenyam pendidikan formal yang tinggi. Namun demikian, andai ada “Sekolah Tinggi Ilmu Perjuangan Indonesia,” Inggit lah lulusan terbaiknya.  Inggit adalah janda Soekarno yang paling berjasa dan berpengaruh bagi sang proklamator.
Sungguh, Perawakan yang kecil dan paras yang elok menjadi satu kesempurnaan tersendiri bagi sosok Inggit. Raut muka, mata bahkan tiap helaian rambutnya tak pernah luput dari pujian. Sanggulnya yang senantiasa berhiaskan kembang cempaka kuning, bahkan menjadikan Inggit sosok kembang desa yang diidamkan banyak pria.
Di usia yang masih muda, Inggit Garnasih telah menjadi Nyonya Sanusi. Sejak itu, Inggit pun hidup di tengah orang-orang terpandang. Hal ini bisa dimaklumi mengingat siapa Sanusi kala itu, seorang pengusaha ulung. Namun, tak serta merta Inggit hidup dalam gelimang harta. Kemandirian, menjadi pilihannya. Tak pernah sedikitpun Inggit menyusahkan Sanusi. Ia selalu menyibukkan diri untuk membuat jamu dan kosmetik ala kadar, menjahit kutang, bahkan mejual batik untuk dapat membeli barang-barang keinginanya. Disamping itu, Inggit begitu mengabdi pada Sanusi. Pengabdiannya terlihat kala ia melayani semua tamu-tamu sanusi yang datang ke rumah setiap saat. Mulai dari menyiapkan masakan hingga menyediakan tempat beristirahat dikerjakan Inggit setiap hari, tanpa mengeluh. 

Tiga dalam Satu Diri
            Menikah dengan Sanusi, Inggit tak merasakan kebahagiaan yang semestinya. Namun, semua itu berubah ketika sosok Soekarno muda didatangkan oleh Tuhan kehadapannya. Suatu hari, Hos Tjokroaminoto, sahabat Sanusi, meminta anak dan menantunya untuk ditampung di rumah pasangan Sanusi-Inggit. Mereka adalah Soekarno dan Kuntari. Tanpa piker panjang, mereka berdua pun diterima dengan baik oleh Sanusi-Inggit. Mulanya, tak pernah terjadi apa-apa diantara Soekarno-Inggit. Pada malam-malam berikutnya, Inggit selalu menjadi tempat curahan hati Soekarno. Keibuaan, ketenangan, dan kenyamanan ternyata didapatkan Soekarno dari sosok Inggit Garnasih. Rasa itu, bahkan tak ditemukan Soekarno dalam sosok Ida Ayu Nyoman Rai, ibu kandungnya sendiri.
Lama-kelamaan, benih-benih romantika pun muncul diantara keduanya. Inggit dan Soekarno bisa dibilang sama-sama berada pada titik kejenuhan. Inggit dengan Sanusi, sedangkan Soekarno dengan Kuntari. Pada akhirnya, mereka pun berpisah dengan masing-masing kawan hidupnya, dan bersatu sebagai sepasang suami istri. Soekarno, seorang pemuda yang bersolek dan perlente jelas menemukan tiga sosok dalam satu diri Inggit Garnasih. Sosok Ibu, kekasih, sekaligus kawan.
Hari-hari Inggit pasca dinikahi Soekarno jelas berbeda dengan yang dahulu ia rasakan bersama Sanusi. Mungkin, terasa bodoh meninggalkan suami mapan hanya untuk seorang mahasiswa macam Soekarno. Namun hal itu tidak bagi Inggit Garnasih. Inggit tahu betul ambisi Soekarno untuk memerdekakan Indonesia. Oleh sebab itu, Inggit melakukannya karena tak ingin Soekarno masuk ke dalam jurang hitam, terbenam dengan ambisinya sendiri. Inggit lah yang membantu Soekarno berjuang untuk menyelesaikan pendidikan Soekarno di ITB. Hanya Inggit seorang diri yang menghidupi kebutuhan keluarga mereka saking tak sempatnya Soekarno menyisihkan waktu sebab sibuk berorasi kemana-mana. Inggit bahkan yang senantiasa menemani sang singa podium mengobarkan api perjuangan dalam merebut kemerdekaan. Inggit Garnasih lah satu-satunya orang yang rela berjalan puluhan kilometer ke Penjara Suka Miskin kala Soekarno ditahan akibat suara vokalnya. Bahkan, ketika Soekarno menggigil sekujur tubuhnya, hanya Inggit Garnasih yang mengurusnya sepenuh hati. Inggit pun mungkin sudah berkali-kali mersakan hidup dalam pengasingan dan pembuangan bersama Soekarno.  Inggit lah satu-satunya perempuan yang rela berkawan dengan rasa khawatir kalau-kalau suaminya menjadi bulan-bulanan Belanda. Inggit betul-betul merepresentasikan tiga peran dalam satu diri; Ibu, kekasih, dan kawan bagi Soekarno

Akhir
            Sejatinya, Inggit Garnasih lebih banyak mendampingi kesusahan Soekarno dalam memperjuangkan nasib bangsa yang begitu dicintainya. Namun demikian, tidak dengan begitu, manis dapat dikecap Inggit dengan mudahnya. Inggit harus mendapati kalau dirinya tak bisa membuahkan anak untuk Soekarno. Sampai pada akhirnya, Inggit harus menerima kenyataan pahit. Soekarno lebih memilih bekas anak angkatnya sendiri, Fatmawati. Pantang bagi Inggit yang berasal dari Banjaran, untuk dimadu. Hampir dua puluh tahun mendidik, menemani, dan mengayomi Soekarno, Inggit memilih mundur. Soekarno mengembalikan Inggit kepada Sanusi. Biarpun semuanya telah berakhir, doa Inggit untuk Soekarno nyatanya tak pernah putus. Bahkan hingga Soekarno harus berpulang mendahuluinya, Inggit tetap menjadi tiga dalam satu diri Soekarno. 





[Disarikan dari autobiografi bergaya roman ‘Soekarno, Kuantar Kau Ke Gerbang’
 karya Ramadhan K.H ]