“Kenapa
sejarah dijadikan salah satu mata pelajaran di sekolah? Mulai dari SD, SMP, SMA bahkan kuliah pasti ada pelajaran sejarah. Kalau untuk moral kita dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara, mengapa hanya sekadar mengejar nilai semata? ”
Pertanyaan di atas hanyalah satu
dari sekian banyak celotehan teman saya tentang pelajaran sejarah. Mungkin,
karena dia berjiwa filsafat, pikirannya selalu menanyakan apapun yang ada di dunia ini. Namun, coba kita renungkan sejenak celotehan
tersebut. Apakah pernah hal itu terlintas dipikiran anda?
Tanpa menghakimi dan mengkonfrontasi siapapun,
pelajaran sejarah memang diperlukan bagi generasi muda sebagai sarana untuk
menyampaikan berbagai informasi penting yang berkaitan dengan bangsa ini. Hal
tersebut jelas bukan tanpa arti. Dengan mengetahui sejarah bangsanya sendiri,
generasi muda diharap tak hanya tahu
siapa founding fathers nya. Mereka (termasuk saya) juga diharap bisa berjiwa
nasionalis dan meneruskan perjuangan para pejuang dengan cara yang layak dan
terpuji.
Akan
tetapi, benarkah semua hal yang diajarkan dalam pelajaran sejarah merupakan
fakta yang benar-benar terjadi di masa lampau? coba tanyakan hal ini pada guru
sejarah, pasti beliau akan menjawab: “sejarah itu mempelajari masa lalu, dan
kita tak tahu tentang masa lalu. Maka, segala kemungkinan bisa terjadi”. Alhasil,
segepok nilai-nilai sempurnalah yang lebih diutamakan ketimbang substansi dan
pemahaman terhadap cerita-cerita sejarah itu sendiri. Kalau begitu, jika ada
kesalahan dalam penyampaian sejarah bangsa ini dalam buku-buku pelajaran,
tak akan ada siswa yang mengetahui hal tersebut dan bisa dipastikan pula bahwa
kita (generasi muda) akan buta pada kebenaran sejarah yang sesungguhnya.
Kondisi ini makin menambah pilu keadaan
sejarah bangsa yang nyata-nyata telah direkayasa dan dimanfaatkan untuk memperoleh
kekuasaan. Tak usah jauh-jauh berbicara masalah contoh, kita lihat saja sejarah
keberadaan GERWANI di Indonesia. Manusia di negeri ini hanya tahu kalau GERWANI
menari telanjang dan menyilet-nyilet para jenderal di Lubang Buaya 47 tahun
silam. Padahal, jelas-jelas hal laknat tersebut hanya akal-akalan pihak
tertentu untuk menjatuhkan nama GERWANI (Seminar Kekerasan, Keindonesiaan dan
Perdamaian bersama wartawan Senior Kompas, Maria Hartiningsih). Kenyataan yang
terjadi, seorang PSK lah yang mengatakan hal tersebut untuk memfitnah GERWANI
secara habis-habisan. Ia (sang PSK) dipaksa mengatakan hal ini karena jika tak mau
akan dibunuh oleh oknum tertentu. Lantas, apa ada yang tahu tentang hal ini?
Masyarakat umum saja mungkin hanya sebagian yang paham tentang hal ini, apalagi
generasi muda!
Perlu kita ketahui bahwa sejarah hanya akan
ditulis oleh mereka yang menang dalam sebuah peristiwa. Dalam hal ini, mereka yang berkuasa pasti akan
mengalahkan orang-orang kecil yang hanya menjadi korban di dalamnya. Alhasil,
para penguasa pun bisa memanipulasi kenyataan sejarah atau bahkan
menghapuskannnya dari ingatan suatu bangsa.
Kini, sudah saatnya generasi muda Indonesia betul-betul
memahami sejarah tanah airnya. Hal ini sangat penting mengingat begitu banyak berbagai
fakta sejarah Indonesia yang telah ditulis dalam selimut kebohongan. Generasi muda haruslah kritis! Tongkat estafet pembangunan Indonesia hanya akan jatuh kepada
generasi muda dan dari pengalaman kelam sejarah itulah mereka akan berpikir
untuk membangun negeri yang lebih baik di masa depan. Satu hal penting yang
perlu digarisbawahi: sejarah gelap akan terulang jika sejarah lama tak pernah
dibuka dan dipahami. Pertanyaanya, tegakah generasi muda mengulangi kesalahan
yang sama dengan mengukir sejarah yang buram di tanah airnya sendiri?
-Sebuah refleksi singkat mengenang peristiwa 30 September 1965-
-Sebuah refleksi singkat mengenang peristiwa 30 September 1965-
0 komentar:
Posting Komentar