Kamis, 19 September 2013

Kerlap-Kerlip

Hati kecil itu terlalu lembut
Dan sangat mudah dimatikan

            Mungkin aku tidak tahu makna pertemuan kita malam itu. Malam pertambatan atau justru malam perpisahan. Waktu kala itu memang tak banyak buatku bersamamu. Hanya lusa berselang, aku pergi. Namun, entah mengapa hatiku masih tertambat hingga sekarang. Sejatinya, apa alasan pasti yang membuatku harus merasakan ini. Kagum? Cinta? Aku tak peduli. Satu hal yang pasti, aku merasakannya. Perasaan adalah satu hal yang tak perlu dicari.  Karena perasaan akan tertambat dengan sendirinya. Segera kumulai semuanya dari sini.

Kamis, 27 Juni 2013

Lova Dova Mova: Jetlag!!

Salam jumpa pemirsa, salam olahraga! Masih bersama reporter anda Arya Donadoni langsung dari Atlanta, Amerika Serikat! Kita kini berada dalam menit-menit yang menegangkan, saudara! Kendati sempat menyerah di set awal, pasangan Indonesia nampak masih berjuang keras di lapangan. Doa dan dukungan anda sangat-sangat menentukan! Menentukan apakah Indonesia mampu menciptakan sejarah atau justru kehilangan harapan.....

Selasa, 28 Mei 2013

Merindukan Prestasi dan Prestise Bulutangkis Indonesia

Rindu 

Kami rindu, rindu prestasi maha gemilang 

Prestasi yang prestise, prestasi bulutangkis kami 
Kami rindu piala thomas, rindu piala uber, rindu piala sudirman 
Rindu akan pujian khalayak pada timnas bulutangkis kami 
 Bukan seperti sekarang, hujatan dan cacian yang selalu terlontar 
Kami rindu.. 
Sudah sangat lama merindu!


Senin, 21 Januari 2013

Call For Paper: Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional 2013





Buat anda yang punya segudang ide-ide kreatif, let's share it and Join this competition!
Info lengkap, silahkan buka:
komunitaspenulisbanten.blogspot.com

Rabu, 21 Maret 2012

Di Bawah Jembatan Kota (Bagian 2)


”Ah, seandainya dia tidak takut berhadapan denganku, pasti aku  punya teman malam ini,” Aku tertunduk lesu. Hari ini, aku bertemu dengan seorang gadis yang hampir jadi kawanku. Pada awalnya, gadis itu memang mau mendengar perkataanku. Namun, entah mengapa ia lantas berteriak-teriak dan berlari begitu saja. Andai kepalaku yang setengah bulat ini tak dipenuhi belatung. Andai dahulu tubuhku terlahir sempurna. Semua makhluk pasti mau jadi kawanku. Dunia, mengapa kau tega membiarkanku seperti ini? Sungguh, aku sudah bosan mendengar teriakan histeris semua makhluk yang bertemu denganku. Aku muak dengan segala rasa takut dan jijik mereka padaku. Aku benci, aku benci, aku benci!